Sunday, 15 March 2015

Monyet Dan Kura-kura


Pada suatu masa, seekor kura kura melihat sebatang kayu besar mengambang di sungai, terhanyut dengan cepat. Ketika batang kayu itu mendekat, kura-kura melihat bahwa batang kayu itu adalah sebuah pohon pisang, dan ia berpikir, "Wah, bagus sekali jika ditanam," jadi ia mencebur ke air dan berenang ke arah pohon.
Kura-kura menarik pohon itu, berharap bisa menariknya ke tepi sungai, tetapi ia terlalu kecil, pohon itu berat, dan arusnya terlalu deras. Segera saja kura-kura kelelahan, dan ia pikir ia harus mencari seseorang untuk membantunya. la melihat keliling dan melihat seekor monyet sedang duduk di tepi sungai. Monyet itu menertawakannya.
"Mengapa kamu tertawa?" teriak kura-kura. "Tidakkah kamu melihat aku sedang berjuang sekuat tenaga?"
"Aku melihatnya!" tawa si monyet. "Aku melihatnya!"
"Ayo tolong aku," mohon sang kura-kura. "Dan jika kamu menolong aku, aku akan membagi pohon pisang ini denganmu!"


Nah, ketika monyet mendengar kata "pisang," ia segera melompat ke dalam air, dan bersama-sama mereka menarik pohon pisang ke tepi.
Ketika tiba di rumah kura-kura, ia berkata "Nah, sekarang, monyet, bantulah aku menggali tanah untuk menanam pohon ini."
"Tetapi ini kebunmu," kata monyet, "tadi kamu bilang kita akan membaginya."
"Memang begitu," kata kura-kura. "Kita akan menanarn pohon ini, dan ketika sudah berbuah pisang, kita akan membagi hasil dari usaha kita." Kemudian ia tersenyum, bangga akan ide cemerlangnya.
Tetapi monyet tidak memerhatikan; ia tidak peduli dengan kecerdasan kura-kura, dan ia tidak suka kerja keras. "Menurutku, kita belah dua saja sekarang, dan saya akan membawa bagian saya."
"Tetapi monyet," kata kura-kura, "bukan begitu caranya membagi sebuah pohon."
"Aku ingin bagianku!" teriak monyet "Dan aku akan membawa bagianku sekarang juga!"
Kura-kura menarik nafas. "Baiklah katau begitu, bagian mana yang kamu inginkan?"
Monyet memerhatikan pohon itu dan mempelajarinya keras-keras, tetapi ketika ia melihat daun-daun indah dan segar di bagian atas pohon, ia tahu apa yang diinginkannya. "Aku ingin bagian atasnya!"
'Baiklah," kata kura-kura, dan ia memanggil keluarganya untuk membantu memotong pohon itu.
Kemudian kura-kura menanam separuh bagian bawah pohon itu di kebunnya, dan monyet membawa separuh bagian atas pohon pulang ke rumah dan menanamnya di halamannya.
Tentu saja separuh bagian atas pohon itu kemudian mengering dan mati, tetapi separuh bagian bawah, dengan akar-akarnya yang kuat, menumbuhkan anak-anak pohon berdaun baru, dan akhirnya setandan pisang masak.
Ketika pisang itu siap dipanen, kura-kura teringat pada monyet dan ia pergi mengunjunginya. "Aku memintamu untuk memanjat pohonku, dan untuk usahamu aku akan memberimu beberapa pisang," katanya.
"Pisang!" teriak monyet, dan ia lupa pada pohonnya sendiri, ia segera berlari ke kebun kura-kura dan memanjat pohon. Di atas pohon ia duduk, memakan pisang itu satu persatu.
"Hei, monyet!" teriak kura-kura. "Berhentitah memakan semua pisangku. Bawalah turun!"
"Tidak!" teriak monyet. Dulu kamu mencoba menipuku dengan memberiku bagian pohon yang buruk. Sekarang gitiranku untuk menang!"
Ini membuat kura-kura sangat marah, karena ia tidak pernah bermaksud menipu monyet - ia tidak bisa menolong jika monyet bodoh dan malas. Di datam kemarahannya ia pergi ke hutan dan mengumpulkan duri-duri dari setiap semak berduri, dan menebarkannya di kaki pohon.
Ketika monyet selesai menghabiskan semua pisang, ia metompat ke tanah, tetapi tentu saja ia mendarat di duri-duri itu. "Aduhl" teriaknya kesakitan. "Aduh! Aduh!" la terns melornpat ke sans-kernari, tetapi kemanapun ia melornpat, duri menusuknya.
la mendengar tawa tertahan dari semak, kemudian tawa keras, dan menyadari bahwa semua kura-kura menertawakannya.
"Awas kalian!" teriak monyet, dan ia berlari ke arah mereka dan membalikkan semua kura-kura.
Sekarang semua kura-kura berbaring tertentang tidak berdaya, dan tawa mereka segera beralih menjadi airmata - kecuali kura-kura yang tertua, yang bijaksana dan tidak takut pada monyet yang dungu.
"Aku memberi kalian pelajaran untuk kelicikan kalian!" teriak monyet. "Aku akan mengambil palu dan menumbuk kalian seperti tepung. Atau mungkin aku akan membawa kalian ke puncak gunung dan melempar kalian ke bawah. Atau mungkin aku akan menusukkan duri-duri ini ke balik kerang kalian. Atau mungkin aku hanya akan ... mmm ... mungkin aku akan ..."
Tetapi sebelum monyet dapat menyelesaikan kalimatnya, kura-kura berteriak, "Tumbuk saja kami! Atau tusukkan duri-duri itu, Oh, tolonglah, monyet. Lakukan apa saja yang kamu inginkan, tetapi apapun yang kamu lakukan, tolong jangan lempar kami ke dalam air. Kamu tahu tanpa bantuanmu kami akan tenggelam. "
Ini menghentikan monyet sebentar, dan kemudian ia ingat ia pernah melihat kura-kura terengah-engah berjuang di sungai, jadi ia tertawa, dan berkata, "Itulah yang akan aku lakukan! Membuang kalian ke sungai, satu persatu!"
Satu persatu ia memungut kura-kura dan melemparnya sekeras mungkin ke dalam sungai. la tergelak ketika mendengar percikan air, dan dengan senang memerhatikan setiap kura-kura tenggelam dari pandangan.
"Ah ha! Tidak akan ada lagi kura-kura yang akan menipuku!" serunya - tetapi kemudian, satu persatu kura-kura muncul di permukaan, dan mereka berteriak, "Terima kasih, monyet! Terima kasih telah melempar kami ke tempat yang aman!"
Semua kura-kura hidup bahagia sesudah pengalaman itu, dan tidak pernah lagi meminta pertolongan monyet.

Diambil dari Berbagai Sumber