Saturday, 10 November 2018

Memaknai Hari Pahlawan


Perjuangan kemerdekaan tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa raga untuk negara. Kemerdekaan tidak akan tercapai kalau para pahlawan tidak berjuang untuk merebut kemerderkaan. Kemerdakaan tidak sekonyong-konyong kita raih tanpa niatan yang ikhlas di hati para pahlawan kemerdakaan saat itu.

Sunday, 28 October 2018

Belajar dari Kawanan Srigala



3 serigala yang berjalan paling depan adalah yang tua dan sakit, mereka berjalan di depan untuk mengatur kecepatan berjalan kelompoknya karena jika mereka di belakang pasti akan tertinggal.

5 serigala berikutnya adalah yang terkuat dan terbaik, mereka bertugas untuk melindungi sisi depan bila ada serangan.

Para ‘warga’ berada ditengah-tengah, terlindungi dari serangan manapun.

5 serigala di belakangnya adalah yang terkuat dan terbaik, mereka bertugas untuk melindungi sisi belakang bila ada serangan.

1 serigala yang terakhir adalah sang pemimpin. Dia memastikan ‘no one left behind’ dan ‘all keep stay one on pack’. Dia memastikan tidak ada yang tertinggal, dan kelompoknya tetap utuh bersama. Dia selalu siaga untuk berlari ke arah manapun untuk memerintahkan ‘protect and serve’ kepada para ‘bodyguard’ kelompoknya.

Satu hal yang dapat kita pelajari di sini, menjadi seorang pemimpin bukanlah tentang berada di baris terdepan. Ini tentang bagaimana menjaga suatu kelompok agar selalu bisa bersama utk memajukan bukan memecah belahkan.


"Sebuas-buasnya Srigala masih memikirkan keselamatan kaumnya"

Diambil dari berbagai sumber

Friday, 26 October 2018

Hakikat Sumpah Pemuda


Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.
Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia
Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Sejak 1959, tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda, yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 untuk memperingati peristiwa Sumpah Pemuda.

Diambil dari berbagai sumber